Turun Berat dengan Sehat; Bakar Lemak dengan Makan Makanan Berlemak

Cara menurunkan berat badan yang sehat adalah dengan mengurangi kadar lemak di tubuh. Kebanyakan penurunan berat badan yang cepat hanya menurunkan berat air atau malah mengurangi massa otot, sangat tidak sehat. 

Kalau kita kelaparan dan kekurangan nutrisi (khususnya protein), maka tubuh akan mengambil protein dari otot, masalahnya salah satu otot yang terpenting adalah jantung, maka berbahaya jika kita tidak makan dalam jangka waktu lama. 

Terdapat laporan dari beberapa orang yang meninggal setelah mencoba berpuasa air tidak makan hanya minum saja selama beberapa puluh hari, sakit jantung. 

Berkurangnya massa otot karena tubuh mengonsumsi protein tubuh sendiri, ini tidak sehat dan cenderung terjadi pada orang yang kelaparan atau diet rendah kalori dalam jangka panjang. 

Jadi, untuk turun berat badan yang paling bagus dan menyehatkan adalah dengan mengurangi kadar lemak tubuh. Membakar lemak tubuh yang memang merupakan cadangan energi yang semestinya digunakan. 

hilangkan lemak tubuh bukan menghilangkan otot

Dan beragam program diet kebanyakan hanya mengurangi berat air di tubuh. Kalaupun turun berat lemaknya, namun dalam beberapa waktu berat tubuhnya akan kembali seperti semula sebelum diet, malah lebih berat!

Hal ini terjadi karena set poin berat badan seseorang cenderung stabil oleh karena baseline kadar insulin serta sensitivitas reseptor insulin pada sel-sel. Hal ini akan dijelaskan lebih mudah dalam tulisan yang lain, mari kembali ke topik metabolisme. 

Bisa dikatakan, tubuh mengambil sumber energi dari hasil metabolisme:

  • Gula
  • Lemak
  • Protein
  • Alkohol
  • Keton

Semua hasil metabolisme akan menjadi ATP (Adenosine TriPhospate) atau molekul energi. Saya telah membahas betapa bahayanya kalau sampai tubuh mengambil sumber energi protein karena bisa mengurangi otot dan membahayakan otot yang paling utama: jantung. 

  
Jantung terdiri dari sel-sel yang dipenuhi oleh mitokondria, yang merupakan pembangkit tenaga dan menggunakan oksigen dalam membakar sumber energi seperti lemak. Jantung tidak pernah berhenti bekerja maka dari itu selalu membutuhkan oksigen dan selalu menggunakan lemak sebagai sumber tenaga. 

Sebaliknya sel-sel darah merah tidak memiliki mitokondria dan tidak menggunakan oksigen malah membawa oksigen sehingga berada dalam metabolisme energi. Sama seperti retina, sebagian sel renal di ginjal, dan otak membutuhkan gula sebagai sumber energi.

Otak membutuhkan ratusan kalori dari gula. Tapi jika tidak ada gula, otak bisa mengambil energi dari keton. Keton berasal dari lemak yang dirubah di liver atau hati. Semakin rendah insulin, produksi keton semakin bertambah. 

Protein yang dikonsumsi juga bisa diubah menjadi gula dalam proses glukoneogenesis, maka dari itu, seseorang tidak haru mengonsumsi gula atau karbohidrat. 

Dan tubuh tetap bisa berfungsi dengan baik walau konsumsi gula tidak ada atau minimal. Karena kebutuhan gula sebagai sumber energi sangat minimal. Sebagian besar organ dan sel-sel di tubuh bisa menggunakan lemak sebagai sumber energi. 

Tubuh juga bisa membakar alkohol sebagai energi, tapi efeknya sangat buruk, otak kita akan kehilangan kesadaran alias mabuk. Maka dari itu, saya akan membahas dua mode metabolisme energi yang umum: membakar gula atau membakar lemak.

 

tangki lemak lebih besar daripada tangki gula
 
Bayangkan metabolisme tubuh manusia seperti mesin, mesin yang sumber energinya berasal dari dua tangki; tangki bahan bakar gula dan tangki bahan bakar lemak.

Tangki bahan bakar gula lebih kecil dari tangki bahan bakar lemak. Tubuh manusia hanya bisa mencadangkan gula ribuan kalori saja. Cadangan gula ada di otot dalam bentuk glikogen, di liver, dan sedikit di darah.

Kadar gula di dalam tubuh manusia tidak boleh ketinggian, manusia bisa koma lalu mati. Kadar gula yang tinggi merusak organ-organ. Tubuh memproduksi hormon insulin untuk mengurangi gula dan menyalurkannya sebagai energi dan cadangan energi atau lemak.

Sedangkan kadar lemak yang disimpan tubuh seseorang bisa puluhan ribu kalori. 

Bahkan orang kurus bisa menyimpan lemak sampai belasan kilogram alias puluhan ribu kalori. Orang yang kegemukan atau obesitas malah bisa memiliki cadangan lemak di tubuhnya hingga seratusan ribu kalori.

Maka dari itu, tangki bahan bakar gula jauh lebih kecil dari tangki bahan bakar lemak. Tangki bahan bakar lemak jauh lebih besar di dalam tubuh karena tubuh menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak, bahkan sebagian glukosa atau gula dan karbohidrat yang dikonsumsi juga disimpan dalam bentuk lemak. 

Lemak adalah sumber energi yang ideal bagi tubuh manusia. 

Selain itu, lemak per gram memiliki lebih banyak kalori daripada gula atau glukosa. Gula hanya mengandung 4 kalori sedangkan lemak sampai 9 kalori. Secara ATP, molekul energi pada lemak bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat ATP. Jadi lebih banyak. 
 

memetabolisme gula seperti membakar korek, memetabolisme lemak seperti membakar kayu
  

Ibaratnya, membakar gula seperti membakar korek api batangan, kecil dan mudah habis terbakar. Sedangkan, membakar lemak seperti membakar batangan kayu yang besar; lama terbakar dan apinya besar.

Sehingga orang yang masih menggunakan mode metabolisme membakar gula untuk energi akan mudah lapar lagi walau baru makan. Sedangkan pembakaran lemak akan lama merasa kenyang.

Parahnya lagi, orang yang sudah insulinnya sudah berlebihan tangki bahan bakar gulanya bocor. Sebagian masuk ke tangki bahan bakar lemak. Tangki bahan bakar lemaknya semakin besar tapi tetap tidak banyak digunakan.

  

  
Insulin adalah kunci atau switch yang menentukan apakah seseorang membakar lemak atau malah menyimpan lemak. Insulin rendah berarti tubuh bisa membakar lemak, insulin tinggi tubuh malah cenderung menyimpan lemak dari konsumsi makanan khususnya yang tinggi karbohidrat (gula). 

Selama kadar insulin tinggi, penggunaan tangki bahan bakar lemak akan terblokir. Oleh karena, selama tubuh masih menggunakan tangki gula sebagai bahan bakar utama, tangki lemak tidak akan digunakan.

Mengapa menggunakan bahan bakar dari tangki yang kecil, harus sering diisi, dan tidak efisien? 

Mengapa tidak menggunakan bahan bakar yang lebih besar dan optimal (yaitu lemak yang per gram lebih banyak kalori) serta tidak perlu menghasilkan banyak hormon insulin yang bersifat meningkatkan inflamasi atau peradangan ?

Dan jika seseorang terlalu banyak memproduksi insulin karena memetabolisme gula (yang banyak dari karbohidrat) serta baseline insulinnya sudah tinggi, dia akan semakin banyak menyimpan lemak (hasil dari konsumsi karbohidrat yang diubah menjadi lemak dalam proses denovo lipogenesis) dengan tangki lemak yang semakin besar (jadi semakin gemuk).

Ibaratnya, orang gemuk itu kaya (banyak simpanan energi dalam bentuk lemak), namun semua kekayaan itu ada di rekening bank yang diblokir insulin jadi tidak bisa diambil. Perumpamaannya, uangnya banyak tapi tersimpan di rekening dan tidak bisa ditarik. 

Sehari-hari orang gemuk menggunakan uang yang ada di dompet. Itulah analogi energi dari gula. Ketika dia makan dan hasil konsumsi makanannya menjadi gula atau dalam perumpamaan ini, menjadi uang yang ditaruh di dompet serta sebagian di rekening bank. 

  
Dan setiap dompetnya kosong (dan cepat kosongnya karena sebagian uang yang didapat selain ditaruh di dompet disimpan ke rekening bank juga), dia harus makan lagi untuk mengisi kekosongan dompetnya. 

Mengapa tidak menggunakan simpanannya yang banyak ada di rekening, malah menumpuknya tapi tidak diambil-ambil?

Sekali lagi, hormon insulin adalah kuncinya. Insulin membuat seseorang sulit membakar lemak tubuhnya sendiri karena tugas insulin adalah mengolah gula serta lemak darah yang meningkat hasil dari makanan yang dimakan. 

Kesimpulannya jelas, tubuh lebih mengutamakan lemak sebagai sumber energi. Dari sejuta tahun yang lalu, selama ratusan ribu tahun manusia adalah pembakar lemak. Bahkan bayi baru lahir metabolismenya membakar lemak (ASI atau air susu ibu sebagian besar teritori dari lemak dan kolesterol). 

Jika manusia memakan gula/karbohidrat, tubuh akan menggunakannya sebagai energi lalu menyimpan sebagian sebagai cadangan tenaga dalam bentuk lemak. Apalagi jika kadar insulin sudah tinggi ditambah makan karbohidrat dan banyak makanan lainnya, tubuh akan semakin banyak menyimpan lemak. 

Ubahlah mode metabolisme menjadi membakar lemak. Jangan mengkonsumsi karbohidrat atau gula tapi makan makanan yang mengandung protein dan lemak alami. Ikuti prinsip PANTANG DIET; makan enak sekenyangnya berat badan turun/tetap ideal!

INTINYA:

  1. Turun berat badan yang sehat adalah dengan menurunkan kadar lemak tubuh. 
  2. Beralihlah ke mode pembakaran lemak maka lemak tubuh juga akan dibakar. 
  3. Metabolisme lemak berarti tidak menggunakan gula sebagai bahan bakar tenaga. 
  4. Makan makanan tanpa karbohidrat agar tidak tinggi gula dan insulin di tubuh. 
  5. Jika insulin & gula rendah, tubuh mulai memetabolisme mode pembakaran lemak 
  6. Makanan yang berlemak serta puasa akan menurunkan insulin dan gula di tubuh. 
  7. Makan daging berlemak untuk menguatkan otot dan memetabolisme lemak. 
  8. Bakar lemak termasuk lemak di dalam tubuh supaya langsing tapi tetap sehat!

Iklan

2 Comments

Komentar ditutup.