Sumber Tenaga: Bahan Bakar Gula vs Bahan Bakar Lemak

Manusia mengambil sumber tenaga dari makanan.

Pada umumnya makanan dibagi tiga makro: protein, lemak, dan karbohidrat. 

Kebanyakan orang di jaman sekarang mengambil sumber tenaga dari mayoritas karbohidrat. 

Karbohidrat dibutuhkan sebagai gula untuk bahan bakar metabolisme tubuhnya.

Namun, manusia juga bisa menggunakan lemak sebagai bahan bakar energi sehari-hari. 

Beberapa organ tubuh membutuhkan gula tidak bisa pakai lemak seperti otak, sel-sel darah merah, retina dan sebagian ginjal. 

Biasanya kebutuhan gula diambil dari karbohidrat. Tapi liver atau hati manusia bisa membuat gula dari protein dan lemak. 

Jadi tidak masalah kalau tidak mengkonsumsi karbohidrat sama sekali. 

Masalahnya kita sebaiknya mengambil sumber tenaga utama dari gula atau lemak?

Mari kita lihat perbandingannya;

  • Tangki bahan bakar gula hanya sekitar 50-100 gram di liver ada juga di otot sebagai glikogen tapi hanya bisa digunakan oleh otot. Total senilai 500 kalori saja isi tangki gula ini. 
  • Tangki bahan bakar lemak bisa sampai beberapa kilogram tergantung ukuran berat lemak di tubuh, bahkan orang yang kegemukan bisa memiliki puluhan kg lemak atau hingga setara  dengan 150.000 kalori!
  • Manusia pembakar gula harus sering mengisi tangki bahan bakar gula karena kebutuhan energi yang tinggi dari sel-sel tubuh terutama otak dan otot. 
  • Manusia pembakar lemak bisa bertahan lama tanpa makanan, bisa berhari-hari tidak makan karena memiliki cadangan energi dalam bentuk lemak tubuh yang banyak. 

Maka dari itu, orang yang menggunakan lemak sebagai bahan bakar energi akan sangat mudah menurunkan berat badan karena bisa menggunakan lemak tubuhnya sendiri sebagai sumber tenaga. 

Tapi, orang yang mengkonsumsi karbohidrat untuk menggunakan gula sebagai sumber bahan bakar energi berpotensi menimbulkan masalah pada metabolisme:

  1. Gula darah yang meningkat. Tubuh perlu menjaga kestabilan gula darah pada kisaran 70-110 sehingga jika gula darah tinggi tubuh akan memproduksi insulin sebagai hormon yang memetabolisme gula. 
  2. Insulin akan memobilisasi gula ke dalam sel-sel untuk energi tapi sebagian besar gula ini menjadi lemak (trigliserida) dan disimpan sebagai cadangan energi di dalam sel lemak dan organ-organ. 
  3. Selama insulin tinggi, tubuh tidak akan bisa menjadi pembakar lemak malah menjadi penimbun lemak. 
  4. Lama-kelamaan sensitivitas reseptor insulin pada sel-sel akan berkurang dan bisa menimbulkan resistensi insulin. 
  5. Resistensi insulin membuat tubuh memproduksi insulin semakin banyak lagi, padahal insulin yang kebanyakan bisa menyebabkan beberapa masalah.


Pada beberapa penelitian, insulin tinggi menyebabkan peradangan atau inflamasi. 

Insulin bersifat mengeraskan dinding pembuluh darah, meningkatkan potensi penyumbatan darah oleh kolesterol buruk (LDL) dan beresiko kena serangan jantung serta stroke akibat trigliserida yang meningkat. 

Fatty Liver atau pengerasan hati karena penumpukan lemak, darah tinggi, dan timbulnya kista serta tumor juga merupakan masalah yang timbul dari kebanyakan insulin.

Dan resistensi insulin berarti gula darah yang naik, menjadi diabetes tipe 2 yang mengakibatkan kegagalan organ, misalnya ginjal jadi harus cuci darah, infeksi jamur dan bakteri yang meningkat, radang sendi, impotensi atau kemandulan, luka yang membusuk sampai harus amputasi, penurunan fungsi otak dan indera, sampai koma dan kematian. 

Sayangnya banyak orang tidak menyadari kalau insulinnya sudah tinggi sampai sudah terlambat. Sudah kelebihan berat badan sampai obesitas baru menyesal. 

Gejala awal insulin yang tinggi adalah peningkatan trigliserida, sering merasa lemas dan mudah lapar, perut mulai membuncit, atau sekedar penambahan berat badan setiap tahun yang tidak disadari.

Kesimpulannya, lebih baik mengambil sumber tenaga dari bahan bakar lemak. Berat badan bisa turun, tubuh lebih sehat, gula darah stabil, dan tidak meningkatkan insulin.

Kita harus berpantang makan karbohidrat. Gula menimbulkan kecanduan, dan trigliserida yang tinggi (dari karbohidrat) akan mengganggu sinyal rasa kenyang dari hormon leptin. Sehingga kalau makan karbohidrat bisa berlebihan, susah berhenti atau jadi sering ngemil. 

Lama kenyangnya tapi cepat merasa lapar lagi. 

Kalau makan makanan yang mengandung protein dan lemak, kita akan merasa kenyang dengan cepat dan tidak merasa lapar dalam waktu lama. 

Tak perlu makan protein dan lemak dengan karbohidrat juga. Jika kita masih mengkonsumsi karbohidrat kita tidak akan menjadi pembakar lemak yang optimal

Jadi, berhentilah makan karbohidrat. 

Pantang: pati, akar/umbi-umbian, nuts (kacang/biji), tepung, dan gula yang paling berbahaya

Makanlah makanan alami. Gaya makan manusia selama ratusan ribu tahun, diet: daging (sapi/kambing/ayam), ikan, essential fatty acids (lemak hewani), dan telur jika tidak alergi.

Jangan takut sama lemak dan kolesterol, lemak dan kolesterol sangat dibutuhkan tubuh. 

Tanpa lemak manusia akan malnutrisi lalu mati. 

Penyerapan vitamin yang penting membutuhkan lemak. Metabolisme seluruh sel-sel tubuh membutuhkan lemak. 

Kolesterol yang tinggi bukan dari makanan, tubuh memproduksi sendiri mayoritas 80 persen kolesterol. 

Kolesterol bisa menumpuk dan menempel di pembuluh darah akibat gula (inflamasi). 

Kurang kolesterol membuat depresi, frustrasi, agresif, emosional, dan menurunkan daya tahan tubuh, serta meningkatkan resiko kematian. 

Serat yang malah ternyata tidak dibutuhkan oleh tubuh. 

Banyak serat tidak bisa dicerna dan akan dibuang lagi.

Serat yang kasar juga bisa mengiritasi dinding usus yang halus. 

Penyerapan nutrisi dari makanan terhambat oleh serat. 

Sebaiknya banyak makan daging berlemak sebagai sumber protein dan lemak. 

Daging dicerna dengan sisa pembuangan yang sedikit, tidak menimbulkan banyak gas, pencernaan lancar dan penyerapan gizi sempurna.

Protein dan lemak dari tumbuhan tidak mirip dengan tubuh manusia, bisa menimbulkan reaksi alergi dan penolakan dari tubuh. 

Banyak tumbuhan yang juga mengandung anti nutrisi, gizi yang tidak bio-available, dan mengandung beragam bahan kimia seperti asam oksalat, salisilat, phytate, lectin, gluten, saponin, hingga racun seperti sianida.

Maka dari itu, tumbuhan lebih baik diolah seksama menjadi obat-obatan atau cukup menjadi bumbu saja. 

Makanlah daging enak yang disukai, sepuasnya dan sekenyangnya. Tapi jangan ngemil supaya insulin tidak selalu meningkat sepanjang waktu.

Sesekali berpuasa juga sangat bagus dalam menurunkan insulin, asal jangan dipaksakan. 

Usahakan jangan sampai merasa kelaparan dan olahraga, walau sangat menyehatkan, tidak terlalu disarankan bagi yang ingin turun berat badan

Silahkan baca panduan lengkapnya dalam prinsip pantang diet

Iklan