Masalah Metabolisme Manusia Modern

Masalah orang-orang di jaman sekarang banyak yang tidak sadar kalau metabolismenya sudah tidak optimal. 

Orang-orang yang kelebihan berat badan, fatty liver, beberapa jenis tumor dan pcos, hipertensi dan penyakit pembuluh darah ada terindikasi sel-selnya sudah kelebihan glukosa, kadar hormon insulin dan leptin juga sudah berlebihan bisa hingga resistan.
Semua itu harus diperbaiki dengan diet pantang karbohidrat dan gula.

Kita hidup dalam era yang sangat menyedihkan. Orang-orang di jaman sekarang makanannya kebanyakan karbohidrat/gula. Nasi, mie, roti, kentang, keripik, snack2, makanan olahan, buatan pabrik, semua yang dari tepung dan gula, serta segala minuman yang manis-manis seperti soda kola atau limun berkarbonasi. 

Tubuh manusia dirancang untuk mempertahankan kadar glukosa darah, dijaga di kisaran yang sempit pada kisaran 70-110 mg/dL, yang disebut homeostasis glukosa. Sekitar 5-6 liter darah hanya ada 2 sendok teh gula, tidak bisa lebih atau akan koma. 

BAHAN BAKAR KARBO/GULA?

Manusia memiliki 5 hormon untuk meningkatkan gula darah: glukagon, norepinefrin, epinefrin, kortisol, HGH tapi hanya memiliki 1 hormon untuk menurunkan gula darah, yaitu: insulin.

Hanya dengan fakta ini saja kita bisa bilang bahwa glukosa tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sumber utama bahan bakar tenaga manusia. 

Tubuh manusia memiliki keterbatasan ruang penyimpanan untuk glukosa. Kita hanya bisa menyimpan 100 gram (400 kalori) glukosa dalam hati, dan 300 gram (1.200 kalori) pada otot dalam bentuk glikogen. 

Ketika kita makan diet berkarbohidrat tinggi, hal ini akan membatasi level energi diri. Pola makan tinggi karbo/gula akan membuat kadar insulin meningkat tinggi dan hal ini mencegah tubuh untuk menggunakan lemak sebagai sumber bahan bakar tenaga dalam beraktivitas. 

Padahal kita memiliki persediaan lemak yang banyak bisa hingga 40.000 sampai 120.000 kalori di dalam tubuh ini, bahkan lebih bagi beberapa orang yang kelebihan berat badan.

Coba pikirkan, tangki bahan bakar mana yang lebih unggul untuk diakses tubuh, yang hanya 1600 kalori (glikogen), atau yang sebanyak 40.000 -120,000 kalori (cadangan lemak)?

Manusia memiliki 5 hormon ini untuk meningkatkan kadar gula darah, karena masalahnya sebelum jaman konsumsi karbohidrat menjadi tinggi seperti jaman sekarang, adalah supaya manusia bisa menjaga kadar gula darah supaya cukup. 

Sekedar cukup untuk kebutuhan sedikit sel-sel yang hanya bisa menggunakan glukosa.

Namun, terjadi perubahan dalam diet kita selama 50-100 tahun terakhir yang telah mengubah semua ini. 

Sekarang masalah utamanya adalah bahwa kadar insulin menjadi ketinggian karena terus dipicu oleh makanan tinggi karbohidrat/gula.

Kadar hormon insulin yang tinggi merupakan stimulator yang kuat dari sistem saraf simpatik. 

Mengapa hal ini menjadi masalah? 

Sistem saraf simpatik adalah bagian dari sistem saraf otonom seperti detak jantung atau pernapasan atau berkeringat, hal-hal yang tidak perlu disadari atau dikendalikan penuh.

Jika tingkat insulin melonjak tinggi, maka manusia mengaktifkan sistem saraf simpatik menjadi stres tinggi (respon melawan atau lari), hal ini menyebabkan kelenjar adrenalin untuk melepaskan hormon stres kortisol, norepinefrin, dan epinefrin. 

Ketiga 3 hormon ini meningkatkan gula darah dan insulin. 

Selanjutnya hormon stres ini juga menyempitkan arteri pembuluh darah, hingga bisa menghambat aliran darah. 

Lalu tekanan darah juga naik (hipertensi), peningkatan denyut jantung, jadi berkeringat, atau mendapatkan serangan panik.

Semua hal ini disebabkan oleh pola makan yang mengandung karbohidrat tinggi, bukan tinggi lemak. 

Padahal, kalau makan makanan berlemak tinggi dengan protein sedang akan memiliki efek sebaliknya pada semua sistem metabolisme ini. 

Yaitu diet ketogenik yang akan menurunkan gula darah, yang membuat kadar insulin juga lebih rendah, akhirnya akan menenangkan sistem saraf simpatik. 

Dengan kata lain sistem saraf simpatis akan tidak perlu terlibat. 

Respon stres untuk melawan atau lari hanya akan diaktifkan bila ada perubahan ke lingkungan yang berpotensi menimbulkan ancaman bagi keselamatan atau bahaya.

Janganlah respon melawan atau lari ini diaktifkan sepanjang hari, stres kok setiap hari. 

Hentikan pola makan berkarbohidrat dan mengandung gula tinggi, yang terus memicu sistem saraf simpatik Anda. 

Mengaktikan semua hormon stres ini.

Parahnya lagi sebagian besar pemakan karbohidrat berlebih ini adalah individu yang kurang aktif, memiliki stres dari tekanan pekerjaan tapi banyak duduk di belakang meja seharian. Sehingga cadangan glukosa (glikogen) di ototnya tetap penuh.

Glikogen di hati ada juga sekitar 100 gram glukosa saja untuk menjaga kadar gula darah supaya konstan dan memenuhi kebutuhan otak kita, sel-sel darah merah, daerah renal medulla di ginjal, retina. 

Sedangkan semua sel-sel dalam tubuh manusia berbahan bakar lemak. Kelebihan karbohidrat alias glukosa di dalam tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak. 

Dan jika makan makanan yang mengandung banyak karbohidrat, maka akan menyebabkan tingkat insulin yang tinggi secara konstan. 

Insulin ini bertugas menyalurkan glukosa supaya kadar gula darah yang melonjak akibat konsumsi karbohidrat bisa diturunkan. 

Insulin yang tinggi ini membuat enzim lipase pembakar lemak jadi non aktif, kita jadi tidak bisa membakar cadangan energi dalam bentuk simpanan lemak tubuh. 

Kita lalu jadi kecanduan makan lebih banyak karbohidrat untuk bahan bakar aktivitas kita sehari-hari karena sulit mengakses lemak selama kadar insulin ini masih tinggi. 

Dan otak kita juga tetap sepenuhnya ketergantungan pada glukosa (karbohidrat). 

Jika saja kita bisa menurunkan kandungan karbohidrat dari makanan maka insulin jadi lebih rendah, sehingga simpanan lemak tubuh akan bisa diakses untuk bahan bakar bukan malah terus-menerus ditimbun sebagai lemak tubuh akibat dari makan karbohidrat secara berlebihan. 


KETOGENIC DIET

Kita sejatinya bisa membuat keton bagi otak sebagai pengganti glukosa sehingga kita tidak ketergantungan pada karbohidrat. 

Malah otak yang berbahan bakar keton lebih ideal bagi manusia, lebih efektif dalam berpikir dan emosinya stabil. 

Kadar glukosa dalam darah akan normal, hormon insulin juga berimbang tidak berlebihan. 

Perilaku orang-orang tidak akan terlalu emosional, atau merasa mudah kelaparan dan craving gula atau karbohidrat.

Jika kita bisa mengakses simpanan lemak tubuh kita sendiri sebagai bahan bakar, kita tidak akan jadi budak karbohidrat. 

Tidak mudah lapar lagi dan jarang ngemil. 

Cara untuk tubuh mulai efektif membakar lemak dan menggunakan keton daripada glukosa dimulai dengan berpantang karbohidrat dan gula.

Liver akan mulai mensintesis keton dari ketiadaan atau minimnya glukosa di tubuh. Butuh beberapa minggu diet rendah karbohidrat (<20 gram/hari atau nol sama sekali). 

Atau dengan berpuasa bisa mencapai keadaan ketosis (tubuh mulai sintesis keton) dalam waktu beberapa hari. 

Dan butuh berbulan-bulan konsisten dalam ketosis untuk bisa sampai pada tingkat keadaan keto-adapted alias tubuh sudah efisien membakar lemak dan menggunakan keton sampai tidak terdeteksi lagi waste keton yang terbuang seperti pengujian keton pada urin. 

Semua dimulai dari stop konsumsi karbohidrat. 

Budak karbohidrat di jaman sekarang terlihat dari otaknya yang mudah emosional, gampang lapar lagi, dan inginnya ngemil terus (karena insulin tinggi membuat gula darahnya drop). 

Akibatnya jadi banyak menimbun lemak dari konsumsi karbohidrat yang berlebihan. 

Akhirnya perut jadi buncit, bisa obesitas dan diabetes. 

Atau kalaupun masih kurus dia akan memiliki kadar trigliserida atau lemak darah yang tinggi (bahaya untuk jantungnya) dan memiliki banyak visceral fat yang tak terlihat dari luar (lemak yang melingkupi organ-organ tubuh) atau fatty liver, daya tahan tubuh (sistem imun) menurun, kepikunan dini, serta beresiko sakit kanker. 

Padahal, bahan bakar ideal manusia adalah lemak dan keton sebagai pengganti glukosa bagi beberapa sel tertentu. 

Tapi utamanya lemak adalah sumber tenaga yang paling optimal bagi manusia. 

Kita perlu memakan lemak juga disamping protein yang menjadi kebutuhan sehari-hari. 

Sedangkan karbohidrat tidaklah esensial, karena tubuh bisa mensintesis glukosa untuk memenuhi kebutuhan gula tanpa perlu makan karbo/gula. 

Karbohidrat kompleks pun akan tetap menjadi glukosa semua di dalam tubuh dan menaikkan gula darah (walau lebih lama waktu cernanya) serta semua kelebihan glukosa di tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak. 

MAKRONUTRISI ESENSIAL

Protein dan lemak adalah nutrisi yang esensial, tidak bisa tidak harus dikonsumsi. 

Protein yang terpenting, sebagai pembangun sel2 seluruh tubuh, sumber energi, dan terdapat 9 asam amino esensial yang harus didapatkan dari makanan. 

Tapi makan protein saja tidak cukup, bahkan bisa toksik (rabbit starvation) kalau tidak makan lemak juga. 

Terdapat lemak esensial seperti omega 3 dan 6 serta lemak sangat penting dalam metabolisme manusia. 

Lemak adalah bahan bakar sumber tenaga yang optimal, maka dari itu manusia menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak tubuh. 

Walaupun begitu, meski lemak tubuh kita banyak kita tetap harus mengkonsumsi lemak. 

Lemak bukan hanya sumber tenaga (ATP) tapi nutrisi penting dalam beragam proses metabolisme dengan keseimbangan hormonal, serta pembentukan enzim2, proteksi sel2 seluruh tubuh, berbagai sistem biologis internal tubuh, dan untuk dapat mencerna beberapa vitamin (fat-soluble vitamins). 

Kekurangan konsumsi lemak fatal akibatnya, menyebabkan beragam masalah metabolisme, reaksi biologis yang negatif, penyakit batu empedu, dan malnutrisi. 

Daging adalah salah satu contoh makanan paling ideal, mengandung lemak yang tinggi dan protein yang cukup dengan 9 asam amino esensial dan 2 asam lemak esensial yang pas rasio omega 3 dan 6-nya tidak berlebihan, serta bergizi tinggi yang bio-availibility atau penyerapan nutrisinya sangat banyak untuk bisa dicerna tubuh manusia. 

Soal toksin dalam daging, di lemaknya itu minimal sekali dan sangat kecil tidak pengaruh ke manusia konsumsi daging yang diberikan hormon. 

Hormon yg diberikan pada binatang potong seperti sapi tidak akan berpengaruh pada hormonal manusia. Butuh makan ratusan kg daging sekali makan baru berpengaruh kepada manusia.

Beda pengaruh hormonal dan tidak ekonomis malah mahal. Sehingga injeksi hormon ini tidak ekonomis sudah jarang peternak menggunakannya. 

Dan kadar antibiotik pun harus sudah nol alias bersih sebelum dipotong kecuali mau kehilangan ijin.

TOXIC PLANTS

Justru simpanan toksin pada lemak manusia itu banyak dari diet dia sendiri yang buruk seperti junk food, dan sebagainya disimpan dalam bentuk lemak, ketika karbo dan gula berlebihan akan dikonversi jadi lemak oleh hati. 

Banyak zat-zat kimia yg disaring oleh liver juga disimpan di dalam lemak tapi bukan berarti itu dari konsumsi daging. 

Serta banyak zat2 kimia itu berasal dari tumbuhan, seperti salicylates, oksalat, phytate, lectin, gluten, dan beragam toksin lainnya. 

Makanya sumber obat2an itu kebanyakan dari tanaman. Dan di isolasi, difilter zat kimianya. 

Zat-zat kimia ini adalah perlindungan diri tanaman karena tanaman tidak bisa lari dari pemangsa/hama. 

Banyak tumbuhan mengandung toksin, anti-nutrient (membuat kita defisiensi mineral), phytate, salicylate, oksalat (bikin batu ginjal), sianida, gluten, lectin, saponins, phyto-estrogen (yg bisa mempengaruhi hormon manusia) dan berbagai bahan kimia sebagai perlindungan diri karena tanaman tidak bisa lari dari pemangsa. 

Maka dari itu, kalau masak sayuran harus diolah, direndam, dimasak, difermentasi (tempe), dikecambahkan (kayak toge), difilter (seperti pembuatan obat) dengan tujuan untuk mengurangi kandungan racun kimianya. 

Sebaiknya juga jangan konsumsi juga gula buatan kimiawi seperti sukralosa, aspartame, saccarine, atau pemanis buatan lain (kalau stevia masih mending), karena ada penelitian itu meningkatkan pelepasan insulin fase pertama (bukan fase kedua setelah makanan dicerna yang insulinnya lebih tinggi).

Rasa manis ini membuat beberapa orang kesulitan lepas dari kecanduan gula atau karbo di otaknya menimbulkan reaksi tertentu serta secara psikologis (secara pikiran saja). 

Walaupun begitu, yang paling parah adalah gula biasa (sukrosa) dan fruktosa, bisa menekan sistem imun dan meningkatkan potensi peradangan atau inflamasi. 

Semua jenis karbohidrat baik yang sederhana seperti glukosa dan fruktosa, hingga karbohidrat kompleks tetap akan menjadi gula setelah dicerna manusia. 

Kadar gula darah yang tinggi setelah konsumsi karbohidrat dan gula yang berlebih juga akan memicu lonjakan insulin sebagai awal mula masalah metabolisme saat insulinnya mulai berlebihan. 

Hiperinsulinemia dan resistensi insulin disebabkan oleh glukosa yang sudah kebanyakan di dalam sel-sel tubuh. 

Insulin juga memiliki efek buruk mengeraskan pembuluh darah dan kalau kebanyakan bisa menimbulkan banyak masalah metabolisme pada manusia modern. 

Insulin yang tinggi beresiko sakit jantung, rawan penyumbatan pembuluh darah, pembengkakan liver, peningkatan kadar trigliserida, kolesterol, dan asam urat, darah tinggi serta kista, tumor, dan penyakit di saluran cerna serta ginjal, kepikunan alzheimer atau dementia, membuat peradangan serta kelebihan berat badan, obesitas, hingga diabetes. 

Medis kadang mendeteksi kelebihan gula hanya dari kadar gula darah, padahal seseorang bisa pra-diabetes selama puluhan tahun tapi tidak tahu karena selama ini gula darahnya normal, tidak tau kalau itu hasil dari keroyokan insulin (hyperinsulinemia), kalau trigliserida sudah tinggi walau gula darah normal, seharusnya tes darah itu perlu cek fasting insulin juga. 

Sebenarnya kalau percaya evolusi, manusia itu awalnya omnivore tapi ke arah carnivore, makan daging (apalagi dibakar di api) akan memadatkan kalori (efisiensi dari waktu tidak perlu mengunyah atau memamah biak seharian) dan nutrisinya sangat tinggi. 

Efisiensi ini membuat manusia bisa banyak waktu untuk berpikir, kreasi, dan makin cerdas. Kumpul2 di api unggun menciptakan musik lalu bahasa. 

Makin kesini otak manusia makin membesar dan ususnya menyusut (sampai ada usus buntu), itu ada di beberapa hipotesis. 

Sedihnya, manusia jaman sekarang malah kembali ke konsumsi lebih banyak tanaman (pertanian) khususnya tepung jadi kebanyakan karbo/gula.

Lebih baik makan makanan alami manusia selama ratusan ribu tahun sebelum masa pertanian (puluhan ribu tahun) karena secara genetika kita sudah beradaptasi lebih efektif mencerna daging daripada tumbuhan. 

Eksperimen aja sendiri: makan daging sepotong jangan dikunyah dan makan sayur yang tidak dikunyah, mana yg lebih mudah dicerna dan mana yang tidak bisa dicerna alias keluar lagi?  

Silahkan mencoba, jangan takut lemak, kolesterol dan asam urat juga tidak masalah dengan konsumsi protein hewani saja. 

Setelah masa adaptasi (6 bulanan, kolesterol seperti trigliserida akan turun, hdl naik kalau LDL tidak udah di test karena dihitung dengan rumus, kecuali di test masing2 jenis LDL nya dan asam urat akan turun lama2 menurut Prof Stephen Phinney).

Yang bermasalah adalah makan lemak dengan karbohidrat, membuat sindrom metabolisme dan ketidakseimbangan hormon. 

Semua studi daging merah tidak bagus adalah studi korelasi dengan metode observasi dan wawancara, dan kebanyakan yg mengaku banyak makan daging merah itu pemakan karbo juga plus dagingnya olahan (pasta, pizza, sosis) yang mengandung zat additive nitrite (selain nitrate) dan filler pati atau karbo juga. 

Belum ada studi kausal atau yg diisolasi menyatakan penyebab langsung adalah makan daging eksklusif tanpa karbohidrat. 

Manusia ratusan ribu tahun makan daging dan lemak, inilah diet alami manusia, bahkan bayi yang menyusui asi pun dalam kondisi Ketosis (bukan keto acidosis) karena asi mengandung banyak lemak dan kolesterol. 

Sejak jaman pertanian seperti jaman Mesir baru mulai masalah manusia seperti kegemukan, sakit jantung, gigi keropos terlihat dari temuan mumi (lihat presentasi dr Eades) dengan perhitungan dengan carbon dating dan residu nitrogen yg bisa menentukan diet manusia purba. 

Manusia purba berburu binatang sampai binatang itu punah. 

Mereka sehat dan berumur panjang. Kalau ada yg bilang manusia purba umurnya pendek itu karena statistik rata2 yg tidak berimbang akibat banyak bayi dan anak2 yg mati karena kurangnya perawatan kesehatan dan antibiotik. 

Bayangkan jika kita di hutan, kita akan memilih berburu dan makan daging daripada mencari buah dan sayur atau jamur. 

Karena banyak buah yg beracun serta butuh berkilo2 sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan kalori dan nutrisi harian. 

Sedangkan daging padat kalori dan gizi. 

Segala tumbuhan termasuk sayur dan buah bisa merugikan kesehatan dengan kandungan toksin kimianya dan residu pestisida jika tidak organik, apalagi nutrisinya yang mikro dengan bio-availability yg rendah alias susah diserap dan sangat sedikit. 

Lebih baik daging yg nutrisinya mikro mudah diserap dengan bio-availability yg tinggi. 

Misalnya zat besi sayur bayam butuh 2 kg bayam baru bisa menyamai zat besi sepotong daging (100an gram). 

Wortel juga tidak mengandung vitamin A hanya beta karoten yang harus dikonversi jadi vitamin A oleh tubuh (hanya 45% orang sepopulasi yg bisa) dan bio-availability hanya 3 persen, butuh 2 kg wortel matang atau sekarung wortel mentah untuk memenuhi kebutuhan harian vitamin A. 

Lebih banyak daging berlemak plus jeroan seperti hati yg sangat banyak mengandung vitamin A yg langsung bisa diserap tubuh 100 persen. 

Plus daging dan lemak mengandung Makronutrisi Esensial (9 asam amino dan 2 Fatty acids essential) tidak seperti karbohidrat yg tidak esensial karena glukosa bisa disintesis tubuh dari pemecahan trigliserida menjadi free fatty acids  dan gliserol serta dari protein (glukoneogenesis) yang dimana sintesis gula dari glukoneogenesis ini tidak akan berlebihan sesuai kebutuhan (kecuali metabolismenya sudah terganggu). 

Namun jika konsumsi karbohidrat berlebihan bisa meningkatkan kadar trigliserida atau kadar lemak darah biasa yang disebut dengan  fenomena : carbohydrate-induced hypertriglyceridemia.

TRIGLISERIDA

Trigliserida adalah tiga molekul fatty acids dengan satu batang glycerol alias setengah glukosa. 

Liver membuat trigliserida dipicu oleh insulin yang naik akibat tingkat gula darah yg tinggi dari konsumsi karbohidrat. 

Memang bisa juga trigliserida itu dari lemak, kalau makan lemaknya bareng dengan karbo/gula. 

Kalau makan lemak tapi tidak makan karbo/gula maka lemak itu kebanyakan akan dibakar sebagai sumber energi tapi kalau makannya masih karbo plus lemak jadinya tinggi trigliserida plus tingginya VLDL alias very low density lipoprotein (kolesterol buruk). 

Orang yang diet pantang karbohidrat pun bisa tinggi trigliserida di bulan2 awal adaptasi  karena banyak lemak tubuhnya yang luruh, berkurang lemak tubuhnya menjadi meningkatkan trigliserida di darah tapi hanya sementara saat turun berat badan. 

Tapi kalau masih makan karbohidrat dan gula lalu trigliseridanya tinggi, itu dipastikan sindrom metabolisme alias hyperinsulinemia dan Leptin Resistance. 

Trigliserida tinggi bisa jadi awal akan diabetes, sudah pasti kelebihan berat badan karena kelebihan lemak dan lemak darah (trigliserida) dan rawan serangan stroke atau jantung karena insulin bersifat mengeraskan pembuluh darah dan gula membuat peradangan sehingga kolesterol VLDL itu bisa lengket, menempel, dan menyumbat pembuluh darah. 

Sebaiknya kadar trigliserida di bawah 100 dan hdl di atas 40, kalau sudah begitu dipastikan VLDL (bukan LDL biasa) pasti rendah. 

Gula darah juga kalau bisa tetap rendah, caranya dengan pantang karbo dan gula (sumber trigliserida tinggi) itu plus berpuasa jika bisa. 

Selamat mencoba dan menjadi sehat serta kuat seperti fitrahnya manusia. 

*sumber: Jeff Cyr dan beragam sumber lain. 
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11584104

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11082210

Iklan