Kontroversi Fruktosa

 #teleminar Soal gula yang bikin heboh..

PD2018 udah ga pantang gula,

Baiknya gula dari buah!

Mengapa bisa begitu?

Simak aja yaa… 

Sejak ratusan tahun yang lalu, kencing penderita diabetes (diabetesi) terasa manis,

Inilah penyakit gula dan orang dulu mengira kondisi ini disebabkan konsumsi gula atau karbohidrat terlalu banyak.. Salah!

Kemampuan tubuh kita yang bisa mencipta gula baru diketahui tahun 1848, oleh Claude Bernard,

Oleh karena diabetesi kehilangan gula di urin banyak banget melebihi tingkat konsumsinya,

Walau gula udah dipantang tetap aja kencingnya manis.

Jaman dulu, dokter-dokter masih percaya pernyataan medis yang kurang ilmiah bahwa gula penyebab sakit diabetes,

Dan kepercayaan ini sayangnya terus berlanjut sampai sekarang kepada beberapa orang yang kurang terinformasi soal ilmu nutrisi.

Diabetes itu insulinnya defisiens atau kurang, meski bisa hyperinsulinemia, tetap resistensi, dan bisa dari produksi insulin kurang, pankreas udah mulai rusak keracunan lemak (lipotoxicity). 

Akibatnya tidak imbang dengan glukagon yang naikin gula darah, glukoneogenesis terjadi di hati tanpa dihentikan insulin, kortisol hormon stres ikut naik, gula darah makin meningkat itu dari produksi di hati. 

Biasanya yang diabetes itu obesitas sebelumnya, ada skinny fat, kurus tapi hati berlemak, pankreas mulai rusak, gula darah dan tensi ikut tinggi.

Awal mulanya adalah sindrom metabolik, jauh sebelum gula darah tinggi, hormon stres udah naik, kortisol kacau, asam lemak bebas (NEFA: non-esterified fatty acids) banyak beredar.

Tapi sebelumnya diketahui bahwa lemak lah akar masalahnya, orang menduga biang keladinya adalah gula, kebanyakan konsumsi karbohidrat katanya,

Yang disalahkan khususnya fruktosa merusak hati.

Padahal mestinya pati (starch, itu ga mengandung fruktosa tapi jadi glukosa) yang banyak bikin orang kegemukan bersama konsumsi lemak tinggi khususnya minyak nabati, asam linoleat,

PUFA (polyunsaturated fatty acids, dari kacang, biji, benih, kombinasi tepung & minyak goreng, margarin, biskuit, mie, roti, junk food) inilah sumber utama masalahnya metabolisme! 

Efek dari sindrom metabolik ga hanya obesitas dan diabetes, tapi atherosclerosis, sakit jantung, darah tinggi, stroke, inflamasi atau peradangan, arthritis, depresi, pikun, kanker.

Uniknya, sebelum ditemukan insulin, pada tahun 1860-an, di Paris dan Inggris (dokter William Bud) merawat diabetesi dengan gula yaitu sukrosa, setengah glukosa (yang di kencing manis) dan fruktosa,

Bahkan hingga tahun 1874 di Jerman ada laporan perbaikan diabetes dengan fruktosa, kencing manis berkurang jadinya.

Sebelum ada terapi insulin, terapi dengan fruktosa ini populer selama beberapa dekade, fruktosa dijual di toko hingga dipakai Rumah Sakit sebagai infus untuk orang diabetes.

Dan tahun 1940-an, seorang dokter dari Jerman, dr Walter Kempner, menyembuhkan orang yang hipertensi parah, pembengkakan jantung, sakit ginjal kronis, penyakit mata akibat diabates, bahkan diabetes sebagian besar sembuh dengan diet makan buah, gula yang mengandung fruktosa dan nasi putih aja.

Dan di universitas Duke, program diet nasi & buah ini berlanjut hingga 80 tahun, sebelumnya akhirnya ditutup.

Tahun 80-an, lemak jenuh mulai difitnah, lemak jenuh menghasilkan kolesterol, bikin sakit jantung, hindari lemak hewani beralih ke lemak nabati PUFA (soya oil, corn oil, dll)

Yang fitnah lemak udah terkenal, Ancel Keys, yang pensiun sampai tua di mediterraneania tetap makan hewani dan mengoreksi bahwa kolesterol yang dimakan itu tidak apa-apa tapi orang tidak memperhatikan bagian itu. 

Lalu, yang orang banyak ngga tau juga, gula ikut difitnah, oleh John Yudkin, bagi yang ngga percaya lemak itu tidak sehat akhirnya menuduh gula itu yang tidak sehat.

Fatty Liver atau hati berlemak dianggap akibat konsumsi gula tinggi, fruktosa hanya dimetabolisme di Liver jadi membebani,

Padahal kebenaran ilmiahnya memang fruktosa itu utamanya diproses di hati tapi organ lain juga bisa, bahkan jika oksidasi glukosa terhalang asam lemak (kayak orang diabetes),

Maka fruktosa ini bisa mem-by pass dan fruktosa ini penting untuk reproduksi, cairan seminal & intrauterine, perkembangan fetus, dibutuhkan fruktosa untuk menjaga cairan embryonic, pengaruhi pH dan hydrophobicity, rasio NADH pada NAD+, GSH pada GSSG dan lactate pada pyruvate.

Panjang sih, intinya Fruktosa membantu oksidasi glukosa, membantu menjaga dari tekanan oksidatif, melawan radikal bebas sebagai antioksidan (makanya buah2an bagus) menjaga keseimbangan sistem redox jadi menurunkan kerusakan oksidatif atau stres.

Oksidasi yang tidak optimal, memicu pelemahan dalam proses pembakaran asam pyruvate pada mitokondria, menyebabkan kematian sel dna jika survival bisa jadi kanker (hilang fungsi lebih ke bertumbuh dan divisi) teori Otto Warburg pemenang Nobel tapi dikesampingkan oleh medis.

Hormon tiroid, insulin, dan fruktosa mengaktifkan enzim anti kanker (juga anti diabetes)

Keberadaan PUFA dan lemak bebas yang tinggi (dari konsumsi dan simpanan badan) menekan fungsi dari glukosa dan fruktosa dalam produksi energi untuk sel-sel dan struktur organisme secara keseluruhan.

Fruktosa lalu difitnah dengan penelitian-penelitan yang menggunakan diet terdiri dari fruktosa atau gula dengan lemak dari minyak PUFA,

Atau studinya pakai high fructose corn syrup alias fruktosa tidak alami hasil proses kimiawi pati jagung, pati dipantang karena bahaya dan lebih mengemukkan dengan tinggi glukosa.
(Villaume, et al., 1984)

Studinya malah fruktosa yang ditambahkan pada glukosa, mengurangi kadar gula darah tinggi (hyperglycemia) walau hormon insulin bermasalah (Shiota, et al., 2005)

Fruktosa efektif untuk membantu orang yang rendah toleransi glukosanya (Moore, et al., 2000)

Asam urat yang bisa meningkat dari konsumsi fruktosa menandakan aktivitas sistem anti oksidan endogenous (Waring, et al. 2003) maka dengan diet 18% fruktosa, 11% lemak jenuh minim PUFA, di darah PUFA berkurang, dan status anti oksidan naik (Brown, Girard, et al., 2005)

Intinya konsumsi gula menurunkan hormon stres.

Kurang gula bisa stres jadi konsumsi pati, tepung, lemak/minyak, malah kegemukan.

Gula dibutuhkan otak, bahkan pada perkembangan janin.

Jadi yang udah biasa diet rendah karbohidrat harus pelan2 aja mulai makan buah, sedikit demi sedikit buah ditambah, cari yg tinggi fruktosa, suplemen dengan gula pasir, nanti beradaptasi sendiri asal, hindari lemak dan minyak berlebihan, maka hormon stres akan turun, tiroid menjadi membaik, metabolisme optimal lagi, berkat fruktosa dari buah/gula. .

Sukrosa, gula dan madu, dipakai juga utk pengobatan karena mempercepat proses penyembuhan, inflamasi atau peradangan cepat selesai.

Banyak zat metabolit di fruktosa, menjaga kesehatan, menurunkan histamine (bikin alergi), memproteksi dari inflamasi, cedera hypoxic kurang oksigen) dan aktivasi NF-kappaB, banyak lah, jangan kurang gula! 

Diet kurang gula, rendah fruktosa, selama beberapa lama tampak menyehatkan karena pantang pati, umbi, gandum, tapi awal-awal fit berkat adrenalin dan glukagon yang naikin gula darah, tapi gula dari glukoneogenesis bukan dari makanan, ambil dari protein.

Maka diet rendah karbohidrat harus tinggi protein, kalau kurang protein akan ambil dari otot, bahaya buat jantung, bikin rambut rontok juga stres karena gangguan kortisol akibat kelenjar adrenal kelelahan memproses glukoneogenesis dan lipolysis terus menerus.

Pakai gula pasir biasa aja, Stevia boleh, gula diet jangan kayak diabetasol mengacaukan mikroba usus, bisa bikin diabetes, toleransi glukosa berkurang, kemasukan karbohidrat dikit gula darah malah naik tinggi? Pusing2.

Pelan2 aja makan karbohidrat sehat dari buah, lama-lama bisa konsumsi gula biasa, itu anti stres, dan protein tetap harus walau tak usah ketinggian, secukupnya aja (75~150 gram)

Kalau membakar gula itu hasilkan tenaga, air & co2 banyak, co2 adalah sinyal utk sel darah merah bagian hb melepas oksigen, jadi tubuh kita mendapatkan nutrisi oksigen utk membakar gula lagi..

Kurang gula tubuh akan ubah lemak, protein, karbohidrat utamanya, jadi gula plus oksigen utk pembakaran tenaga

Bahkan membakar lemak (beta oxidation) itu butuh oxaloacetate dari gula atau gula dari asma amino (glukoneogenesis)

Pembakaran lemak itu hasilkan co2 lebih sedikit, akibatnya oksigen kurang untuk sel2, lama2 stres dan struktur bisa rusak, makanya bakar lemak itu pas relaks aja, tidur, kebutuhan oksigen rendah.. Pas aktif kita butuh gula! 

Hati2 olahraga terlalu berat ngos2an, kurang oksigen tinggi laktat juga mengurangi cadangan gula/glikogen bikin stres.

Intinya hormon stres naik kalau bakar lemak banyak-banyak, santai aja fat burning selalu terjadi tapi itu secondary makanya namanya beta oxidation, yang utama adalah pembakaran glukosa, (oxidative phospolarylation) semua sel2 kita butuh gula, termasuk otak, mata, organ-organ seperti ginjal dan sel-sel darah merah semua ga bisa pakai lemak, butuh gula.

Satu lagi.. Semua binatang termasuk yg karnivora bisa bikin vitamin C di dalam tubuhnya makanya jarang binatang kena serangan jantung, tapi hanya manusia, primata dan kalong ga bermutasi genetika ngga bisa membuat vitamin C di dalam tubuh, tebak harus konsumsi apa?

Manusia, monyet dan kalong itu makan buah!

Maka kita harus makan buah (disamping protein hewani dari daging, ikan, seafood dan susu) malah kurangi konsumsi lemak-lemak. 

Sepanjang sejarah manusia, ngga ada yang ngga makan buah, bahkan suku inuit yang di Eskimo makan buah ketika musim panas atau trading dengan penduduk lain yang jauh yang punya hasil pertanian/buah.

Mereka kekurangan vit C suka pendarahan, dan selain itu, di seluruh dunia ini, semua orang makan buah termasuk suku-suku pemburu ketika berburu, minum madu, dll.

Suku masai yg paling jarang kena serangan jantung minum susu dan darah selain makan daging, dan para wanitanya banyak konsumsi buah-buahan.

Jadi, yang menyehatkan: selain makan daging, adalah minum susu dan konsumsi buah (darah ngga usah! Hahaha 😂) cukup hati aja untuk suplemen penambah darah, multivitamin kalau yang ngga bisa makan hati. Kerang & Seafood lainnya juga bernutrisi tinggi selain hati & buah.

Salam Sehat PD2018!

*PD2018 tetap Pantang Diet,
Tapi GULA ga dipantang lagi (diganti GANDUM)

Gula itu baik, utamanya dari buah (fruktosa)

Kurangi lemak/minyak-minyak ganti dengan gula terutama dari buah yaitu fruktosa… 

Dan berikut beberapa meta-analysis dan beragam studi ilmiah tentang fruktosa (positif semua), berikut sumber jurnal2 referensinya:

References:

Agostoni, C., J. L. Bresson, and S. Fairweather-Tait. “Scientific opinion on the substantiation of health claims related to fructose and reduction of post-prandial glycaemic responses (ID 558) pursuant to Article 13 (1) of Regulation (EC) no 1924/2006.” EFSA J 9 (2011): 2223-2238.Chiu, S., et al. “Effect of fructose on markers of non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD): a systematic review and meta-analysis of controlled feeding trials.” European journal of clinical nutrition 68.4 (2014): 416.Cozma, Adrian I., et al. “Effect of fructose on glycemic control in diabetes.” Diabetes care 35.7 (2012): 1611-1620.DeChristopher, Luanne Robalo, Jaime Uribarri, and Katherine L. Tucker. “Intake of high fructose corn syrup sweetened soft drinks, fruit drinks and apple juice is associated with prevalent coronary heart disease, in US adults, ages 45–59 y.” BMC Nutrition 3.1 (2017): 51.Evans, Rebecca A., et al. “Fructose replacement of glucose or sucrose in food or beverages lowers postprandial glucose and insulin without raising triglycerides: a systematic review and meta-analysis.” The American Journal of Clinical Nutrition (2017a): ajcn145151.Evans, Rebecca A., et al. “Chronic fructose substitution for glucose or sucrose in food or beverages has little effect on fasting blood glucose, insulin, or triglycerides: a systematic review and meta-analysis.” The American Journal of Clinical Nutrition (2017b): ajcn145169.Ha, Vanessa, et al. “Effect of fructose on blood pressure.” Hypertension (2012): HYPERTENSIONAHA-111.Hawkins, Meredith, et al. “Fructose improves the ability of hyperglycemia per se to regulate glucose production in type 2 diabetes.” Diabetes 51.3 (2002): 606-614.Livesey, Geoffrey, and Richard Taylor. “Fructose consumption and consequences for glycation, plasma triacylglycerol, and body weight: meta-analyses and meta-regression models of intervention studies.” The American Journal of Clinical Nutrition 88.5 (2008): 1419-1437.Petersen, Kitt Falk, et al. “Stimulating effects of low-dose fructose on insulin-stimulated hepatic glycogen synthesis in humans.” Diabetes 50.6 (2001): 1263-1268.Sievenpiper, John L., et al. “Heterogeneous effects of fructose on blood lipids in individuals with type 2 diabetes.” Diabetes care 32.10 (2009): 1930-1937.Sievenpiper, John L., et al. “Effect of Fructose on Body Weight in Controlled Feeding TrialsA Systematic Review and Meta-analysis.” Annals of internal medicine 156.4 (2012): 291-304.Sievenpiper, John L. “Fructose: back to the future?.” The American Journal of Clinical Nutrition 106.2 (2017): 439-442.Taskinen, M.-R., et al. (2017), Adverse effects of fructose on cardiometabolic risk factors and hepatic lipid metabolism in subjects with abdominal obesity. J Intern Med. Accepted Author Manuscript. doi:10.1111/joim.12632Vos, Miriam B., et al. “Dietary fructose consumption among US children and adults: the Third National Health and Nutrition Examination Survey.” The Medscape Journal of Medicine 10.7 (2008): 160.Wang, D. D., et al. “Effect of fructose on uric acid: a meta-analysis of controlled feeding trials.” J Nutr 142 (2012): 916-23.Wang, D. David, et al. “Effect of fructose on postprandial triglycerides: a systematic review and meta-analysis of controlled feeding trials.” Atherosclerosis 232.1 (2014): 125-133.

Iklan