Konsep Diet Rendah Karbohidrat

Paradigma umum untuk turun berat badan adalah diet rendah kalori, mengurangi makan dan olahraga.

Makanya banyak dokter dan dietisien menyarankan diet yang rendah lemak, karena lemak adalah mengandung kalori tertinggi dibandingkan karbohidrat yang sama-sama sebagai sumber energi.

Makanan selain sumber energi, adalah sumber bahan baku, yang diperankan oleh protein.

Protein seperti blok-blok lego, yang membangun seluruh bagian badan.

Jadi protein itu penting, mau diet jenis apapun, manusia tetap butuh asam amino esensial yang ada di dalam protein. Diet rendah karbohidrat bisa lebih unggul karena biasanya mengandung protein yang lebih tinggi daripada diet rendah lemak.

Oleh karena, protein meningkatkan metabolisme lebih tinggi daripada sumber makanan yang lain jadi bisa membakar kalori lebih banyak lagi.

Protein juga menjadi sumber glukosa yang diperlukan kehidupan apalagi jika tidak konsumsi tinggi karbohidrat lagi dalam dietnya.

Selain protein, lemak juga penting bukan hanya menjadi sumber energi tapi menjadi bahan baku untuk banyak hormon, memproses beberapa jenis vitamin, membran pelindung sel-sel di seluruh tubuh.

Memang, ada lemak yang tidak baik seperti trans fat dan asam linoleat PUFA Omega 6 ketinggian daripada Omega 3, mudah apek/teroksidasi sehingga menimbulkan inflamasi, bikin rapuh dan berbahaya jadinya.

Kalau karbohidrat, dicerna menjadi glukosa (dan fruktosa serta galaktosa juga maltosa) diserap tubuh, meningkatkan gula darah dan gula di liver/hati serta diserap sel-sel seperti otot dengan bantuan hormon insulin.

Hormon insulin inilah yang menjadi isu utama dalam konsep diet rendah karbohidrat. Bahwa menurunkan berat badan bukan soal kalori saja, tapi bagaimana pengaruh hormon terhadap biomikiawi metabolisme.

Misalnya hormon kortisol, ghrelin, leptin yang mempengaruhi nafsu makan, rasa lapar dan kenyang.

Dan yang utama, peningkatan hormon insulin akan menghentikan pembakaran lemak (oksidasi) serta menghentikan hormon sensitive lipase yang membantu pengeluaran lemak keluar dari sel-sel (lipolysis).

Jadi, insulin yang naik dan dalam waktu yang lama, memicu kegemukan lewat penumpukan lemak, penciptaan sel-sel lemak yang baru atau membesarkan sel-selnya, serta menurunkan kadar gula darah sehingga mudah lapar.

Insulin paling cepat naik dan paling lama turun dipicu oleh karbohidrat, urutan selanjutnya adalah protein dan lemak hanya sedikit, tapi ada yang tidak mengandung kalori namun turut mempengaruhi insulin, itu adalah sukralosa, sejenis pemanis buatan dan poliol.

Walaupun begitu, diet yang rendah kalori (tidak mesti diet yang rendah karbohidrat) dan berpuasa, juga bisa menurunkan kadar hormon insulin.

Olahraga yang tinggi intensitasnya juga mampu membantu sensitivas insulin dan menyerap gula darah tanpa perlu memicu hormon insulin.

Kesulitan dimulai ketika terjadi resistensi insulin, oleh sel-sel yang sudah kepenuhan bahan baku energi, lalu organ pankreas semakin memompa insulin sampai akhirnya sel-sel lemak menampung kelebihan kalori ini hingga tidak kuat lagi, atau rusak pankreasnya, lalu terjadilah: diabetes (tipe kedua yang umum atau paling banyak terjadi).

Bersambung, ada pertanyaan?

Iklan